Menurut Kantor Berita ABNA, beberapa pelajar agama dan ulama Islam di Mesir menyatakan ketidaksepakatannya mengenai keputusan Rektor Universitas Al Azhar Mesir berkaitan dengan persyaratan yang diajukannya dalam menjalin hubungan diplomatik Teheran-Kairo.Shaikh al Azhar sebelum menghadiri pertemuan dengan wakil Presiden dan Menteri Kebudayaan Iran, mengajukan syarat agar pemerintah Iran menghancurkan makam Abu Lu’lu yang disebut sebagai pembunuh sahabat Umar bin Khattab. Sebelum pembongkaran pemakaman itu dilakukan katanya, tidak ada hubungan diplomatik apapun antara Teheran-Kairo.
Menyikapi pernyataan Rektor Al-Azhar tersebut, Dr. Zaghlul an Najar, seorang angora Komite Akademi Islam Mesir berkata, “Pembicaraan mengenai hubungan diplomatik Iran-Mesir bukan haknya Rektor Al-Azhar. Rektor Al-Azhar maupun wakil presiden ataupun menteri-menteri tidak memiliki hak dalam hal ini. Yang berhak menentukan hubungan diplomatik Mesir dengan Iran adalah presiden Mesir sendiri."
Pakar Islamologi ini menambahkan, “Dalam hubungan mesir dengan Iran banyak hal lain yang lebih penting dibicarakan dari pada mengurusi makam pembunuh Umar bin khatab.” Sementara Syaikh Yusuf al Badri, salah seorang ulama Iran berkata, “Persyaratan yang diajukan Rektor al Azhar terkait hubungan diplomatik antara Iran dan Mesir dengan penghancuran pemakaman pembunuh Khalifah Umar bin Khattab tidak berharga dan sia-sia. Tidak mungkin hanya karena dikarenakan sebuah makam, hubungan diplomatik antar dua negara tiba-tiba terhenti.”
Isham Urban, pimpinan bidang politik Ikhawanul Muslimin juga menyatakan ketidaksepakatannya dengan adanya persyaratan itu. Bahkan ia terkejut dengan adanya pernyataan tersebut, sebab dia sendiri belum bisa memastikan makam pembunuh Umar bin Khattab itu benar-benar berada di Iran atau tidak.
Dia menambahkan bahwa semua faktor penghalang terjalinnya hubungan diplomatik antara Iran dan Mesir harus disingkirkan. Menurutnya, hubungan diplomatik tidak dapat dibatasi oleh keberadaan sebuah makam. Hubungan antara Teheran dan Kairo sudah mulai tidak terjalin sejak terjadi Revolusi Islam Iran. Dan sampai sekarang hubungan kedua negara hanya tingkat keberadaan kantor kedutaan besar masing-masing di ibukota negara.
Sampai sekang masih disinyalir oleh kebanyakan orang, bahwa makam pembunuh Umar bin Khattab tersebut berada di Iran tepatnya di kota Kasyan. Sementara dari sebuah penelitian mendalam, banyak riwayat yang menuliskan pembunuh khalifah kedua tersebut tidak berada di Iran melainkan di Madinah. Diceritakan setelah menyabetkan pedangnya ke kepala Imam Ali as, si Abu Lu’lu terjebak dan tidak bisa keluar dari Madinah. Ia kemudian terpojok dan membunuh dirinya sendiri dengan pedang yang dipakai untuk membunuh sahabat Umar. Karenanya, besar kemungkinan makam dari pembunuh Umar bin Khattab yang diklaim sebagai Majusi Persia tersebut berada di Madinah. Sebab tidak mungkin dalam kondisi terluka, ia kembali ke Iran dan dimakamkan di Kasyan Iran.